Sosio Desa

Oleh: Abdus Salam

Betulkah desa sudah mengalami kemajuan?, dan apa pendasaran jika desa dikatakan sudah berubah? Mungkinlah desa akan maju, mandiri dan sejahtera? Hal itu yang terukir di benak kita, ribuan tanya yang berantakan di akal anda, antrian pertanyaan yang di gelontorkan oleh anda. Caba kita turun gunung, kisana!

Mari kita sinau jejak desa di India dan China. Menurut Sutoro Eko dalam tulisannya Bahwa Perkembangan Desa India mengalami Dekolonisasi, kemudian dekolonisasi berganti dengan sistem modernisasi desa, sehingga daulat desa mengalami kelumpuhan pada jaman Presiden Nehru . Setelah itu, desa baru muncul dengan ada gagasan baru, politik dan pengetahuan maka gerakan representasi desa di hadirkan kembali. Dengan landasan pada desa, India hadir dengan wajah desa baru.

Nah, kemudian kita belajar pada China, ia lebih revolusioner yang membuat Negri itu menjadi macan Asia. Lebih lanjut menurut Sutoro Eko, ujarnya . Ada empat gelombang dalam sejarah desa China. Pertama, desa sebagai situs Feodalisme, despotisme dan komunalisme, sehingga hal ini menurut karl Marx sebagai kebodohan kehidupan pedesaan yang statis. Kedua, desa sebagai situs kolonialisasi, yakni desa di hisap oleh Negara, kota dan modal. Ketiga, desa sebagai situs revolusi dengan slogan “desa mengepung kota” dengan cara merebut kuasa modal kaum borjuis. Keempat, desa sebagai situs demokrasi lokal dan ekspansi kapitalisme.

Terus bagaimana di Indonesia sendiri, Mula – mula kita harus mengetahui kondisi dan perkembangan desa sepuluh tahun yang lalu, hal itu dapat di pastikan bahwa anda akan mendapati jalan-jalan desa yang rusak, bahkan bertanah, bebatuan dan berlubang – lubang. Kondisi ekonomi belum tertata dengan baik, dan usulan masih di dominasi Pemerintah desa.

Kondisi jalan sepuluh tahun yang lalu sangat memprihatinkan, namun itu adanya – faktanya masih seperti itu. Masihkah ada rasa optimisme jika melihat kondisi yang jalan sembraut itu, di tambah pemerintahan desa yang tidak mau tau. Mikir seribu kali ya!

Hari ini kita mengalami shock, dan bahkan tidak percaya dengan kondisi wajah desa yang mengalami pembenahan dan kemajuan. Benarkah desa itu sudah bagus? Anda semakin mengalami keheranan dan di selimuti rasa tidak percaya, dengan ada nya fakta bahwa desa sudah berwajah baru.

Desa bagaikan terlahir kembali, dalam dekade empat tahun terahir ini – kita dapati desa berubah, mengalami kemajuan dalam segala lini. Dengan adanya UU desa yang sangat mulya itu, hadirnya memberikan semangat baru – gagasan revolusioner dalam proses pembangunan desa. UU desa itu secara substasi isinya memihak pada kepentingan rakyat kecil, misal pada janda tua- lansia, kelompok petani, nelayan dan perempuan. UU desa yang saya rasa sangat sosialis banget.

Kini desa bagaikan bulan purnama, gadis jelita yang selalu menghiasi panggung nasional, menjadi primandona dalam forum – forum nasional, sehingga desa menjadi pusat narasi.

Yang paling utama bahwa kesadaran kolektif untuk membangun desa kini semakin tumbuh, secara kesadaran strukutural. Pemuda desa turut terlibat dalam proses rebuk pembangunan, memperdayakan, pelatihan demi memajukan desa bersama-sama, yang biasanya dulu pemuda desa lebih pergi ke kota untuk mencari kerja. Dengan semangat “ desa membangun Indonesia”.

Sari segi pencapaian dalam hal insfrastruktur, jalan – jalan desa sudah berwajah aspal, paving dan drainase yang baik. Kita sudah tidak mendapati jalan yang becek penuh lumpur, Wajah desa mulai terawat dengan penuh keasrian.
Desa sudah menawari keindahan dengan banyak desa wisata, potensi desa sudah di pelulikan dan dikembangkan dengan cara yang inovasi, peningkatan kemanjuan ekonominya semakin terasa. Lompatan kemajuan ekonomi desa yang luar biasa. Dengan wahana desa wisata, ia bisa menjadi alternatif pilihan untuk menjadi tempat dalam menghilangkan rasa letih.

Perbandingan hipotesis ini, biar kita dapati sentesa untuk gagasan membangun desa yang lebih maju dan berdaulat karna desa adalah kumpulan cita-cita. Ayoo kita berbincang – bincang di joglo desa sambil makan durin asli desa. Bangga menjadi wong ndeso.