BONDOWOSO– Pemerintah Desa Lumutan, Kecamatan Botolinggo, menggelar kegiatan Rembuk Stunting Tahun 2026 di Balai Desa Lumutan, Jumat (19/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi langkah strategis dalam mempercepat penurunan angka stunting sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya ibu hamil dan balita.
Rembuk stunting dihadiri oleh Kepala Desa Lumutan, perangkat desa, petugas gizi Puskesmas Botolinggo, kader Posyandu, Ketua TP-PKK Desa, pengurus BUMDes, tokoh agama, tokoh masyarakat, perwakilan kelompok tani, serta para ibu hamil dan orang tua balita dari empat dusun di wilayah Desa Lumutan. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam menghadapi persoalan stunting secara terpadu dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan itu, peserta memperoleh paparan mengenai kondisi gizi masyarakat berdasarkan hasil penimbangan Mei hingga Juni 2026. Data tersebut meliputi jumlah balita yang tercatat, balita berisiko stunting, kasus stunting yang telah terkonfirmasi, serta ibu hamil yang mengalami Kurang Energi Kronis (KEK). Selain itu, disampaikan pula berbagai faktor penyebab stunting, mulai dari kurangnya asupan gizi, kondisi sanitasi lingkungan, akses air bersih, pola pengasuhan, hingga rendahnya pengetahuan gizi sejak masa kehamilan.
Petugas kesehatan juga menekankan pentingnya pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber pangan bergizi. Desa Lumutan yang memiliki hasil pertanian, perkebunan, perikanan, serta peternakan rakyat dinilai memiliki modal besar untuk menyediakan kebutuhan gizi keluarga secara mandiri dan terjangkau. Peran BUMDes, kelompok wanita tani, dan kader Posyandu pun didorong agar semakin aktif dalam mendukung program ketahanan pangan bergizi di tingkat desa.
Melalui diskusi terbuka, seluruh peserta sepakat memperkuat pemantauan rutin terhadap ibu hamil dan balita melalui kegiatan Posyandu bulanan. Pendataan ulang balita usia 0–59 bulan beserta pemetaan wilayah dengan sanitasi kurang memadai juga akan dilakukan secara berkala untuk memastikan intervensi yang diberikan tepat sasaran. Hasil pemantauan nantinya akan dilaporkan kepada Puskesmas dan diumumkan secara terbuka melalui papan informasi desa.
Kesepakatan penting lainnya adalah optimalisasi pemanfaatan pangan lokal melalui pembentukan gerakan “Pasar Pangan Bergizi Murah” yang akan difasilitasi oleh BUMDes Lumutan bersama kelompok tani setempat. Program tersebut diharapkan mampu menyediakan bahan pangan bergizi dengan harga terjangkau sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konsumsi makanan sehat berbasis potensi desa.
Di bidang lingkungan, pemerintah desa bersama masyarakat akan menggalakkan gerakan kebersihan desa secara rutin setiap pekan. Perbaikan saluran air, penyediaan fasilitas cuci tangan di berbagai titik pelayanan publik, serta pendampingan pembangunan jamban sehat bagi keluarga yang belum memilikinya menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan mendukung tumbuh kembang anak.
Untuk keluarga yang masuk kategori berisiko, Desa Lumutan juga membentuk tim pendamping khusus yang terdiri atas kader kesehatan, tenaga medis, dan tokoh masyarakat. Tim ini akan melakukan kunjungan berkala ke rumah ibu hamil KEK dan balita berisiko stunting guna memantau pemenuhan gizi, pemberian vitamin, serta kelengkapan imunisasi anak.
Selain intervensi kesehatan dan lingkungan, peningkatan pengetahuan masyarakat juga menjadi perhatian utama. Penyuluhan mengenai pemberian ASI eksklusif, makanan pendamping ASI, pola asuh anak, serta bahaya pernikahan dini akan diintegrasikan dengan kegiatan pengajian, arisan, dan kelompok ibu hamil agar pesan-pesan kesehatan dapat diterima secara lebih luas dan berkelanjutan.
Kepala Desa Lumutan menegaskan bahwa keberhasilan menurunkan angka stunting tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, semangat gotong royong dan pemanfaatan potensi lokal merupakan kunci utama dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
“Rembuk stunting ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi komitmen bersama seluruh masyarakat Desa Lumutan untuk memastikan anak-anak kita tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang lebih baik. Dengan kolaborasi yang kuat, kami optimistis upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sebagai tindak lanjut, pemerintah desa telah menyusun sejumlah agenda, di antaranya pendataan ulang dan pemetaan risiko stunting pada Juli 2026, uji coba pasar pangan bergizi murah pada Agustus hingga September 2026, serta evaluasi rutin setiap akhir bulan bersama kader dan Puskesmas. Seluruh program tersebut juga akan diintegrasikan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) dan program kerja BUMDes Lumutan tahun berjalan.
Melalui rembuk stunting yang berlangsung lancar dan penuh semangat kebersamaan ini, Desa Lumutan menunjukkan keseriusannya dalam membangun masa depan generasi yang lebih sehat. Komitmen lintas sektor yang terbangun diharapkan menjadi fondasi kuat untuk mewujudkan desa yang bebas stunting dan memiliki sumber daya manusia yang unggul di masa mendatang. (*)
