Bondowoso – Pemerintah Desa Pujer Baru, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, terus menunjukkan komitmennya dalam mempercepat penurunan angka stunting melalui berbagai inovasi berbasis masyarakat. Dalam kegiatan Rembuk Stunting Desa yang digelar di Balai Desa Pujer Baru, Kamis (25/6/2026), pemerintah desa bersama seluruh pemangku kepentingan meluncurkan dua program unggulan, yakni KIMUS BAPER (Kelompok Bumil per Dusun Cegah AKI dan AKB) dan KABAR SANTER (Kelompok Balita per Dusun Cegah Stunting Desa Pujer Baru).
Kedua inovasi tersebut lahir dari kesadaran bahwa upaya penanganan stunting tidak hanya berfokus pada intervensi gizi semata, tetapi harus dimulai sejak masa kehamilan hingga pemantauan tumbuh kembang anak secara berkelanjutan. Rembuk stunting menjadi forum strategis untuk mengidentifikasi persoalan, merumuskan solusi, serta menetapkan program prioritas yang akan diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan desa.
Program KIMUS BAPER dibentuk sebagai wadah pendampingan bagi ibu hamil di setiap dusun. Melalui kelompok ini, para ibu hamil memperoleh pemantauan kesehatan secara berkala, edukasi pemenuhan gizi, pemeriksaan kehamilan, serta dukungan dari kader kesehatan, bidan desa, dan keluarga. Kehadiran program tersebut diharapkan mampu menekan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB), sekaligus memastikan bayi lahir dalam kondisi sehat dan terhindar dari risiko stunting.
Sementara itu, KABAR SANTER menjadi inovasi yang berfokus pada pendampingan balita di tingkat dusun. Melalui kelompok ini, kader dan orang tua dapat melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara rutin, memastikan kecukupan gizi, meningkatkan partisipasi dalam kegiatan posyandu, serta memperkuat edukasi mengenai pola asuh dan kesehatan keluarga. Pendekatan berbasis dusun dinilai lebih efektif karena mampu menjangkau sasaran secara langsung sekaligus memperkuat budaya gotong royong masyarakat dalam pencegahan stunting.
Camat Maesan, Hendri Hairul Imam, S.E., mengapresiasi lahirnya kedua inovasi tersebut sebagai bentuk nyata komitmen Desa Pujer Baru dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. Menurutnya, keberhasilan percepatan penurunan stunting membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Keberhasilan penurunan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader, hingga keluarga sebagai garda terdepan dalam pengasuhan anak,” ujarnya.
Apresiasi serupa juga disampaikan Koordinator Pendamping Desa Kecamatan Maesan, Joni Fatahillah. Ia menilai inovasi lokal yang berorientasi pada pencegahan sejak dini tersebut sejalan dengan strategi nasional percepatan penurunan stunting yang menempatkan ibu hamil dan balita sebagai kelompok sasaran utama intervensi.
“Pendekatan yang menyasar ibu hamil dan balita secara langsung merupakan langkah strategis yang sejalan dengan kebijakan nasional dalam percepatan pencegahan dan penurunan stunting,” katanya.
Melalui KIMUS BAPER dan KABAR SANTER, Desa Pujer Baru berharap mampu membangun sistem deteksi dini, pendampingan, dan pengawasan kesehatan masyarakat yang lebih dekat dengan warga. Inovasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa upaya mewujudkan desa bebas stunting dapat dimulai dari tingkat dusun melalui kolaborasi, kepedulian, dan semangat gotong royong seluruh elemen masyarakat.
Dari setiap dusun tumbuh harapan. Dari setiap ibu hamil yang sehat dan setiap balita yang berkembang optimal, terbangun masa depan Desa Pujer Baru yang lebih berkualitas, sehat, dan bebas stunting.
Editor: Winartono
