Bojonegoro – Organisasi Ihyaut Turots Jawadwipa (ITJ) menggelar rapat koordinasi kepengurusan baru sekaligus pembahasan program kerja strategis di Reussie Bojonegoro Regency, Rabu (24/6/2026). Pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat struktur organisasi sekaligus menyusun arah gerak pelestarian khazanah keilmuan Islam klasik di wilayah Jawa Timur.
Ketua ITJ, Kiai Saiful Ansori, menjelaskan bahwa forum koordinasi tersebut bertujuan membangun kesamaan persepsi di antara para pengurus serta melakukan pembagian tugas sesuai fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Menurutnya, penataan organisasi yang baik menjadi fondasi penting agar setiap program yang telah dirancang dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
“Koordinasi ini kami lakukan untuk menyamakan visi dan melakukan plotting kepengurusan sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya, sehingga roda organisasi dapat berjalan lebih terarah dan produktif,” ujar Kiai Saiful.
Ia menambahkan, organisasi yang baru saja dideklarasikan pada Jumat (18/6/2026) di Rengel, Tuban, tersebut telah menetapkan sejumlah program prioritas. Salah satu agenda utama yang akan menjadi fokus gerakan ITJ adalah digitalisasi naskah-naskah turats atau manuskrip keislaman klasik sebanyak mungkin, terutama di wilayah Bojonegoro, Tuban, Lamongan, serta daerah-daerah lain yang memiliki kekayaan warisan intelektual serupa.
Program digitalisasi tersebut, lanjutnya, tidak hanya dimaksudkan sebagai upaya penyelamatan dokumen bersejarah dari kerusakan fisik, tetapi juga untuk membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat, akademisi, dan generasi muda dalam mempelajari warisan keilmuan para ulama terdahulu.
Sementara itu, Pembina ITJ, Gus Abdul Latif, menegaskan bahwa upaya digitalisasi turats akan dibarengi dengan kegiatan penelitian ilmiah dan penggalian artefak sejarah. Untuk menjamin validitas dan ketepatan interpretasi terhadap naskah-naskah yang ditemukan, ITJ berencana menjalin kerja sama dengan berbagai kalangan akademisi, mulai dari filolog, sejarawan, hingga pakar antroponimi.
Menurut Gus Latif, kolaborasi lintas disiplin ilmu tersebut penting dilakukan agar hasil pembacaan dan kajian terhadap manuskrip tidak terlepas dari konteks sejarah, budaya, dan perkembangan masyarakat pada zamannya.
“Kami ingin setiap hasil kajian turats memiliki landasan akademik yang kuat. Karena itu, ke depan ITJ akan berasosiasi dengan para filolog, sejarawan, dan pakar lainnya agar kebenaran serta konteks dari naskah-naskah tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Gus Latif berharap hasil digitalisasi manuskrip yang dilakukan di Bojonegoro, Tuban, maupun wilayah lainnya dapat menjadi sumber rujukan bagi para peneliti, pegiat sejarah, serta mahasiswa yang hendak melakukan penelitian mengenai khazanah intelektual Islam Nusantara.
“Apabila ada mahasiswa atau peneliti yang ingin melakukan riset tentang turats dan manuskrip, kami berharap ITJ dapat menjadi salah satu pusat rujukan dan tempat pengembangan kajian tersebut,” tuturnya.
Apresiasi terhadap langkah awal organisasi juga datang dari salah satu pengurus ITJ, Dodi Hasyim. Ia menilai koordinasi perdana tersebut berlangsung sangat baik dan menunjukkan keseriusan organisasi dalam menyusun program jangka panjang secara sistematis.
“Saya cukup terkesan karena sejak awal sudah terlihat bahwa program-program besar ITJ dirancang dengan matang, lengkap dengan tahapan dan langkah-langkah pelaksanaannya. Ini menunjukkan komitmen yang kuat untuk menjaga dan menghidupkan kembali warisan keilmuan para ulama,” katanya.
Dalam kesempatan itu, para peserta juga menyaksikan uji coba digitalisasi naskah menggunakan perangkat CZUR Scanner yang dimiliki organisasi. Demonstrasi tersebut menjadi bagian dari kesiapan teknis ITJ dalam menjalankan misi digitalisasi manuskrip, sekaligus menandai dimulainya langkah konkret pelestarian turats sebagai warisan intelektual yang bernilai bagi generasi masa kini dan mendatang. (Roy/Win)
