Abd. Salam

Baru–baru ini kita mendengar sangat banternya tentang stunting, dalam benak penulis bahwa masih belum banyak orang yang mengetahui tentang isu–isu stunting tersebut. Ia bisa di maklumi karena baru terkabarkan. Isu stunting itu sudah masuk menjadi isu Nasional, bahkan Pemerintahan Presiden Jokowi dan Kyai Ma’ruf, salah satu visinya adalah membangun SDM. Memprioritaskan pembangunan Sumber Daya Manusia. Yang dimulai dari menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan balita dan kesehatan usia anak sekolah.

Jika melihat dari target Intenasional dalam tujuan program pembangunan SDG’s bahwa Indonesia masih banyak masyarakatnya yang penyandang stunting, dari hasil penelitian. Salah satu yang menjadi tuntutan oleh program SDG’s yaitu isu sumber daya manusia.

Nah, apa sih sebenarnya stunting itu? Memang kata stunting dalam bahasa Indonesia belum menemukan kata padanannya yang tepat atau pas, namun hanya mendekatinya misal, kata “tubuh nya pendek”, “kekerdilan”, “cebol”, “gagal tumbuh”. Dari rentetan istilah yang mendekati kata stunting itu, bisa diambil salah satu istilah saja. Jika salam pengertian bahwa stunting adalah sebuah kondisi dimana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain pada umumnya–se usianya.

Kira–kira bangimana kalau sudah menderita stunting (?) nah itu dia, karena stunting itu tidak bisa diobati dan disembuhkan. Sebab tubuh yang pendek sulit untuk tumbuh jika batas usia sudah melebihi 2 tahun, maka, dalam hal ini hanya bisa mencegah terjadikanya stunting.

Apa penyebabnya? Banyak faktor yang menjadi penyebabnya, baik yang berdampak langsung dan tidak langsung. Penyebab langsung di antaranya: (a) Kurangnya asupan gizi pada janin dan atau bayi. Kekurangan asupan gizi pada bayi sejak dalam kandungan dan pada awal kelahiran akan menyebabkan stunting. (b) Faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil, maupun anak balita. (c) Kurangnya ibu hamil mengenai kesehatan dan gizi pada waktu kehamilan serta masa melahirkan. (e) Masih terbatas layanan kesehatan, dan (f) masih kurang akses terhadap makanan bergizi.

Adapun musabab tidak langsung adalah kurangnya akses air bersih dan sanitasi–lingkungan yang kotor. Lingkungan yang masih kotor dengan sampah, dan masih banyak masyarakat yang buang hajat di sungai, buruknya  drainase mengakibatkan makanan tidak sehat, kerena lalat yang membawa kotoran menghinggapi pada makanan tersebut.

Dari banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya stunting, untuk menanggulanginya adalah tugas semua pihak–konvergensi, penanganan yang serius baik dari pemerintah desa, supra desa, SKPD, peran serta masyarakat dan pihak lainnya. Penting juga, memberikan kesadaran pada masyarakat supaya tidak lagi membuang sampah, kotoran dan buang hajat sembarangan. Yang perlu diingat juga adalah bahwa untuk pendanaan pencegahan stunting bisa dialokasikan dari Dana Desa, swadaya dan pihak ketiga. Oleh sebab itu, partisipasi semua pihak diperlukan, saling bahu membahu, demi kesehatan dan kecerdasan generasi Indonesia di masa mendatang. Upaya prefentif lainnya bisa dengan memberikan penyuluhan dan dampingan pada masyarakat biar mengerti terhadap pentingnya dunia kesehatan, lingkungan yang bersih–termasuk air yang di konsumsi juga bersih, misal sumur bor jaraknya 10 miter dari serapan sapiteng. Hal–hal seperti itu perlu diketahui oleh kalangan masyarakat umum,  biar menciptakan budaya sehat dan hidup bersih.